Jumat, 01 Juni 2012

Sejarah Ekologi


Istilah ekologi mulai diperkenalkan ke dalam pustaka ilmiah dalam tahun 1869 oleh seorang ahli biologi bernama Ernest Haeckel. Ekologi berasal dari kata Latin oi-cos (oikos) yang melambangkan rumah, tempat tinggal, sarang dan logos yang berarti ilmu. Dalam bahasa latin istilah itu tidak saja meliputi tempat yang ditinggali, tetapi juga termasuk penghuninya dan peralatan sehari-hari yang dilibatkan dalam kegiatan kehidupan (A.Mattulada, 1994: 11). Dengan kata lain Ekologi mempelajari lingkungan rumah tangga dari seluruh makhluk hidup, di dalam rumah tangganya, serta seluruh proses yang berfungsi yang berfungsi untuk memungkinkan rumah itu dihuni para penghuninya (Odum dalam Soerjani, 2005). Dalam makna ini ekologi adalah pengkajian atas benda-benda hidup tidak dalam arti individual (satu dalam satu) tetapi sebagai anggota dari sesuatu jaringan (network) yang rumit dari organisme-organisme yang saling berhubungan (dari virus tak terjaring sampai manusia) dalam fungsi mereka menghadapi berbagai macam lingkungan termasuk ekadaan alam fisik, berbagai jenis tanaman dan hewan, dan organisme lainya dalam jenis yang sama.

Ekologi adalah ilmu tentang rumah atau tempat tinggal mahluk. Biasanya ekologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkunganya. Yang dimaksud dengan mahluk hidup disini adalah “kelompok” mahluk hidup. Ekologi sebagai ilmu berkembang pesat setelah tahun 1990, dan lebih pesat lagi dalam 2 dasawarsa terakhir. Sekarang kita kenal pula Ilmu Lingkungan Hidup (Environmental Sciences) dan Biologi Lingkungan (Environmental Biology) yang merupakan ilmu tersendiri. Ekologi adalah bagian kecil dari Biologi (R. Soedjiran Resosoedarmo dkk, 1989: 1-2).
Ekologi adalah cabang ilmu biologi yang khusus mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dan lingkunganya (Odum dalam Johan Iskandar, 2001: 7). Kehidupan manusia, seperti halnya mahluk hidup lainya, dipengaruhi dan mempengaruhi lingkunganya. Berbeda dengan mahluk hidup lainya, hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan sekitarnya (sistem biofisik) atau ekosistem dipengaruhi oleh sistem budaya yang dimilikinya. Dengan demikian, faktor budaya ini sangat penting bagi manusia untuk melakukan proses adaptasi dengan lingkunganya (Ingnold dalam Johan Iskandar, 2001: 7).
Sementara menurut A.Mattulada (1994: 23) ekologi adalah pengkajian terhadap relasi-relasi penting dan tempat yang terdapat antara organisme berbagai jenis, sama dan berbagai jenis mahkluk hidup lainya dengan lingkunganya. Dalam pengertian luas, ekologi menganalisis bukan saja bagaimana terjadinya organisme dan pengaruhnya dalam proses kehidupan, melainkan juga pengaruh organisme terhadap lingkungan dan sebaliknya, yaitu lingkungan terhadap organisme. Pada awalnya ekologi masih dianggap sebagai cabang dari biologi, namun seiring dengan makin merebaknya isu mengenai lingkungan hidup ekologi mulai dilihat sebagai ilmu tersendiri yang interdisiplin, serta berdasarkan disiplin yang integratif yang mengkaitkan berbagai proses fisik dan hayati. Ekologi bahkan digunakan untuk menjelaskan seluk beluk kota dengan apa yang disebut ekologi kota, seluk beluk administrasi dalam ekologi administrasi dan sebagainya.
Ilmu ekologi disebut juga dengan ilmu lingkungan, hanya kalau ditelaah lebih jauh, ilmu lingkungan lebih luas daripada ilmu ekologi. Karena ilmu lingkungan mengintegrasikan berbagi ilmu (seperti sosiologi, epidemologi, planologi, kesehatan masyarakat, geografi, ekonomi, ilmu pertanian, kehutanan, perikanan, peternakan dll) yang mempelajari hubungan antara jasad hidup (termasuk manusia) dengan lingkunganya. Tapi memang dalam kajian sejarah bisa dikatakan bahwa geografi sangat berpengaruh dalam penulisan ataupun jalanya sejarah. Hal ini terkait dengan unsur dalam sejarah, yakni spasial (tempat suatu peristiwa sejarah terjadi) disamping unsur temporal (waktu).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar