Jumat, 01 Juni 2012

Hubungan Geografi dengan Ilmu Sejarah


Didalam menelaah sejarah yang seluas-luasnya, para sejarawan di Jerman berpendapat bahwa ada dua golongan ilmu bantu sejarah. Yaitu pertama: ilmu-ilmu bantu sejarah dalam arti luas. Ini meliputi sembarang ilmu, sejauh ilmu ini dapat bermanfaat, seperti biologi lautan, teknik, antropologi fisik, dan budaya, matematik, numismatik, ekonomi, filsafat, germanistik, dan seterusnya. Kedua, ilmu-ilmu bantu sejarah yang khusus. Artinya yang amat dibutuhkan oleh sejarawan, sehingga mau tak mau ia harus memperhatikanya syukur mendalaminya sendiri. Perincianya meliputi geografi kesejarahan, kronologi, geneologi, ilmu sumber, paleografi, ilmu prasasti (urkunde), dan akta heraldik (ilmu tentang lambang-lambang), sfragistik (ilmu stempel dan dokumentasi), serta numismatik (ilmu mata uang) (N. Daldjoeni, 1995: 16).
Geografi menelaah bumi dalam hubunganya dengan manusia. Arti geografi yang sebenarnya adalah uraian (grafein artinya menguraikan atau melukiskan) tentang bumi (geos) dengen segenap isinya,yakni manusia yang kemudian ditambah lagi dengan dunia hewan dan dunia tetumbuhan (N.Daldjoeni, 1982: 13). Geografi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara bumi dan manusia. Bumi dan manusia disitu dapat ditafsirkan sebagai alam dan manusia, atau lingkungan alam dan penduduk. Manusia disitu bukanlah manusia sebagai individu melainkan sebagai kelompok, karena adaptasinya terhadap ligkungan alamnya dilaksanakan secara kolektif. Misalnya sebagai penghuni desa, penduduk wilayah, sebagai bangsa. Definisi diatas memperlihatkan adanya kemiripan dengan ekologi, yaitu ilmu yang mempelajari interelasi atau interaksi organisme dengan lingkunganya.
Hartshorne (dalam N. Daldjoeni, 1982: 108) dalam buku The Nature of the Geography mengatakan bahwa geografi itu sejarah masa sekarang (history is the geography of today). Dengan pemikiran diatas dapat dimengerti adanya usaha para sejarawan dan geograf untuk melihat sejarah dengan latar belakang geografi. Maka lahirlah apa yang disebut historical geography yakni geografi kesejarahan, nama lainya adalah geography is the past. Dalam geografi kesejarahan itu wilayah dipandang sebagai panggung dimana para penghuninya memainkan lakon mereka.
Geografi dapat dipakai dalam membantu penelitian sejarah. Caranya dengan usaha menelaah kondisi geografis dari wilayah yang bersangkutan di masa lampau. Dengan menggunakan metode khusus dipelajari dengan seksama “the setting of human activities” dengan rincian tata kerja: melokalisasikan panggung sejarah tersebut, kemudian mempelajari sejauh mana kondisi lingkungan alam disitu telah mempengaruhi kegiatan manusia dalam menggerakkan jalanya sejarah (N. Daldjoeni, 1995: 4). Dengan demikian geografi memegang peranan penting dalam sejarah, karena sangat mempengaruhi jalanya sejarah. Hal  ini terkait dengan unsur sejarah yang berupa spasial atau tempat suatu peristiwa sejaraj terjadi. Ilmu sejarah sebagai suatu telaah manusia harus memperhitungkan unsur ruang selain waktu. Dengan mendalami pengetahuan geografi, sejarawan dapat mendalami latar belakang geografis dari sejarah.
Menurut William L Thomas (ed) (1970, 78) studi geografis atau penelaahan suatu wilayah mengutamakan mengapa suatu hal ada disitu, bukan sekedar dimana, dan bagaimana sampainya itu ke situ. Relasi antara geografi dan sejarah paling banyak digeluti oleh sarjana di Prancis. Disana studi regional selalu diartikan sebagai penelaahan terhadap tempat dan penghuninya. Adapun faktor-faktor geografis yang terpenting ada tiga yakni: posisi, iklim, dan morfologi bumi. Tiga hal itu tidaklah menentukan manusia manjadi “agent of change”. Suatu bentang alam (landscape) sebagaimana adanya sekarang, telah mengalami pengubahan terus menerus oleh kegiatan manusia di sepanjang masa.
Dengan menelaah suatu wilayah geografis dapat diketahui seluk beluk cara manusia dari abad ke abad telah memanfaatkan berbagi kesempatan yang ditawarkan oleh lingkungan geografis kepadanya. Lain daerah akan lain pula pernyataan budaya materiilnya. Demikian pula budaya rohaninya. Perbedaan itulah yang dapat disebut sebagai dokumen sejarah (adanya perubahan/ perkembangan). Suatu wilayah jadinya dapat bersaksi tentang timbul dan tenggelamnya suatu peradaban suatu masyarakat. Sejarawan sehubungan dengan itu diharapkan benar-benar mengerti peranan iklim serta sumber daya alam setempat didalam ia menlaah sejarah wilayah yang bersangkutan, atau didalam ia membatasi kegiatan manusianya. Menyebarkan agama Islam dari jazirah Arab ke lembah Nil, dan Eufrat-Tigris, serta pantai utara Afrika bertalian erat dengan boyongan bangsa-bangsa Arab serta budayanya  sebagai akibat dari proses dedikasi, yakni pengeringan gurun dan stepa-stepa di Timur Tengah (E Hutington, 1959: 2003).
Geografi sejarah adalah studi tentang manusia, fisik, fiksi geografi, teoritis, dan "nyata" dari masa lalu. Studi geografi sejarah  mempelajari berbagai macam isu dan topik. Sebuah tema umum adalah studi tentang geografi dari masa lalu dan bagaimana perubahan tempat atau daerah melalui waktu. Geografi sejarah banyak mempelajari pola geografis melalui waktu, termasuk bagaimana orang berinteraksi dengan lingkungan mereka, dan menciptakan landskap budaya. Geografi Sejarah berusaha untuk menentukan bagaimana fitur budaya dari berbagai masyarakat di seluruh planet muncul dan berkembang dengan memahami interaksi mereka dalam lingkungan setempat sekitarnya. (http://en.wikipedia.org/w/index.php_Historical_geography diakses pada 18 April 2012 pukul 15.00 WIB)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar